Quick Writing : Nglaras

Nglaras (V)/ : Sebuah kegiatan yang dilakukan dengan tidak melakukan apa-apa, hanya duduk-duduk santai tanpa berpikir, seringkali ditemani minuman ringan, penganan ringan, dan hiburan pendukung suasana berupa suara, bisa berupa suara burung peliharaan, percik air kolam depan rumah atau sesederhana musik kesukaan.

Hi! sudah lama sekali rupanya sejak terakhir nulis di blog, it’s been like….. ok skip, well life is okay dan pekerjaan sedang sibuk-sibuknya, karena sibuk jadi mudah jenuh, karena jenuh jadi mudah stress, kalau stress butuh hiburan sayangnya di sini hiburan kurang bos, cara menghibur diri sendiri paling mudah ya menyempatkan waktu untuk nglaras, selo, leyeh-leyeh. Ndak edan bos!

Saya mau berbagi sebagian playlist nglaras selera saya sendiri, semuanya karya lokal sendiri dan enak didengarkan, silahkan disiapkan saja set ritual nglarasnya dengan kuota internetnya :

    1. Eleventwelfth – Your Head as My Favourite Bookstore
    Suka sekali sama yang satu ini, agak telat sih saya, tapi ini enak sekali, agak heran sih kok band ini masih sedikit mendapat atensi. Well buat kalian yang seumuran dengan saya atau lebih tua, yang sempat menikmati era-era nggrantes dengan lagu-lagu emo berkualitas , its a real deal! Emo Revival is coming! Plus, Watch out the lyrics, i told ya!
    Kesedihan yang hqq, yet Kenikmatan yang hqq
    2. Collapse – Given
    Well not much to tell,  just listen to it! i’m drowned to it, glad to find this band for some reason
    3. Indische Party – Waiting For You
    Well it is Indische Party and i want something relaxing, why not?
    4. Pijar – Selatan
    Kangen bukan?
    5. Scaller – Live and Do
    Well they’re just so awesome, every details and everything in it just so fucking good! Well suara Stella ini emang gawat banget! Kalian boleh ragu buat klik yang lain, but this, you wont regret it, not a single fuckin regret. Saya lebih suka versi rekamannya Sounds from the corner, they did better.
    6. Noise ft Laze – Veteran
    Well sometimes we’re mad about our world, daily routines, you name it, don’t get it wrong, yang gini-gini harus dikeluarin biar ga jadi tai pikiran, finally these guys tellin you something, go sing a long with it, you’re welcome!
    Ditulis hampir 20 menit, semoga cukup quick
Quick Writing : Nglaras

MERESTORASI KE(SE)NANGAN : TIGA DARA

Setelah sekian lama tidak menulis untuk dipublis di blog, pagi ini setelah menerima telfon, entah karena sedang senang atau senang banget, rasanya saya jadi kepingin mempublis keisengan di sini. Here we go!

Salah dua hal yang saya senangi di dunia ini adalah film dan barang lawas. Film buat saya adalah salah satu cara piknik paling mudah selain nonton konser, sebagai orang yang visual, film menjadi hiburan visual yang primer untuk saya, karena mudah dan effortless. Barang lawas, apapun, you name it, memang selalu membuat saya tertarik, karena menurut saya ada cerita di masa lalu yang melekat di dalamnya yang membuat valuenya bertambah, dan tidak akan sama lagi seperti saat baru. Masa lalu memang berbahaya bukan kawan (?) LOL

Menikmati kombinasi film dan barang lawas tentu menjadi hal yang owsom!

Belum lama ini ketika sedang di Jakarta, karena hujan deras semalaman, saya jadi berkesempatan menonton sesuatu yang merupakan kombinasi dua hal maut itu,  berjudul Tiga Dara, film lawas karya legenda Usmar Ismail ini direstorasi dengan format 4K oleh SA Studio Films menggandeng Laboratorium L’immagine Ritrovata yang berbasis di Bengkulu Bologna. Film ini memang sudah setahun mengalami proses restorasi ke format digital sehingaa gaungya sudah terdengar sejak lama, terutama ketika mendekati tanggal pemutaran perdananya, beruntung saya tidak terlewat! Oh ya, ini merupakan film kedua Usmar Ismail yang direstorasi setelah Lewat Djam Malam.

Karena jujur belum pernah menonton film ini sebelum direstorasi di media lain, maupun bentuk film remake-nya yang sudah beberapa kali diciptakan oleh Sutradara lain, saya pun tak menaruh ekspektasi apapun untuk film ini. Duduk, menunggu penanyangan dengan iklan komersial film Nia Dinata yang mengadopsi cerita film ini juga, kemudian film dimulai dengan logo PERFINI yang legendaris itu, lalu dimulailah adegan pertama yang menurut saya agak menjebak dan kemudian menjebak saya untuk takjub sampai akhir film plus gelak tawa seluruh isi bioskop malam itu.

Tidak, saya tidak akan bercerita soal cerita film ini.

Sebagai film komedi musikal, Usmar Ismail sukses menampilkan cerita yang sangat menarik dan tidak membosankan karena plotnya walaupun sedikit tertebak namun tetap ngetwist! Karakter tokoh-tokoh yang komikal membuat film ini menjadi apik, dan mudah dicerna, sebanding dengan kebutuhan tontonan di kala itu mungkin. Bapak yang kaku, cuek dan polos. Nenek yang nenek-nenek banget dengan segala kerewelan dan kelicikan ala ala nenek-nenek. Nunung sang anak pertama yang harus menggantikan peran ibu dan membuatnya menjadi kuper dan sensitif. Nana yang kementhel dan sedikit egois karena selalu mencari kesenangan sendiri akibat keluarga yang sibuk. Nenny, yang cheerful dan menurut saya paling dewasa ketimbang kedua kakaknya. Terakhir, Herman dan Toto , sosok-sosok pria pelengkap keruwetan cerita film ini. Oh ya, jangan lupakan juga Jhonny! sosok yang menang banyak dalam film ini.

Adegan yang sempat kaku di awal kemudian berganti menjadi menarik ketika ketiga dara mulai bernyanyi lagu pertama, menarik karena untuk film musikal Indonesia tahun 50-an, nyanyian ala-ala film eropa ini menjadi sajian keren buat saya. Jangan takut kalo film ini akan menjadi film musikal yang berlebihan, Usmar Ismail menyajikan dengan sangat pas dan dijamin kalian akan menikmatinya. Buat saya, lagu Pilih Menantu yang bersetting Nunung sedang berjalan di pertokoan lama Jakarta  ala-ala broadway merupakan yang terbaik. Saya kagum karena semuanya terasa sangat pas dan tidak dilebih-lebihkan. Adegan lagu Tamasya menjadi terbaik kedua karena ada figuran yang nampak mirip seperti Mat Solar yang entah kenapa kocak sekali. Di luar akting tiga dara , saya lebih menyukai akting Bambang Irawan sebagai Herman ketimbang Rendra Karno sebagai Toto karena pasti sangat sulit memerankan pemuda tanggung yang mudah cemburu, sedikit impulsif tapi sok cool itu ketimbang Toto yang diperankan bersikap selayaknya pria jaman dulu lainnya.

Selain akting dan lagu, kekuatan di film ini juga terletak di lawakannya. Lawakan seperti ketika Bapak disuruh mengenalkan kawan kantornya yang masih bujanglah, yang duda pun tak mengapa asalkan anaknya satu saja dan tidak nakallah hingga lawakan surat-surat untuk mengerjai si Toto pun sukses membuat seluruh penonton tertawa hingga akhir film. Menarik karena menurut saya film ini lebih lucu ketimbang film pada masa setelahnya, Orde Baru. Catatan menarik buat saya karena ini mengindikasikan, kondisi politik saat itu dan seberapa besar pengaruhnya pada media.

Oh ya, selain lawakan yang disengaja muncul juga lawakan yang tidak disengaja pada jamannya yang membuat terpingkal kini seperti kalimat ” Ayo kita tamasya ke Cilincing ” yang sukses memunculkan celetukan celetukan penonton cangkeman macem saya seperti ” Ngapain, ngitungin truk sama pabrik?” yang disambut gelak tawa yang lain.

Percayalah film ini merupakan pilihan yang baik untuk merestorasi pikiran anda setelah seminggu beraktivitas. Saran kedua, sebaiknya jika di Jakarta, tonton film ini di Setiabudi One. Murah. Weekend. Tiga Puluh Lima Ribu.

Have a nice Saturday!1000x730_0_0_1000_730_a9eec944449e90e7780683dbd2fd8b82ec4f91fa

 

 

MERESTORASI KE(SE)NANGAN : TIGA DARA

Bajingan Bernama Marshallino

Kalau ada seseorang yang hampir selalu terlihat bersama saya adalah Marshallino Prasetya, lelaki berpenampilan nyeleneh dengan wajah separuh Papua, sepertiga India dan sisanya seperti apa yang disebut dalam judul tulisan ini, bajingan.

Saya mengenal bajingan ini saat kelas satu SMA, satu-satunya orang yang cukup menarik perhatian saya di SMA 2 Yogyakarta awal-awal, SMA yang terkenal karena anaknya yang kalem-kalem dan lebih cenderung berlabel “ndesa” karena memang waktu itu masih mewah alias mepet sawah walaupun sekarang sudah lebih mepet dengan perumahan semacam SMA di bilangan Setiabudi. Marshallino saat itu adalah seorang lelaki jangkung yang masuk ruang BK untuk pertama kalinya bukan karena merokok atau kenakalan caper anak SMA lainnya, cecunguk ini masuk ruang BK karena celananya pensil, berambut mohawk, berjaket penuh keling dan bersepatu converse hitam kumal. Sejak saat itu saya tahu saya akan mudah akrab dengan bocah sialan ini. Ternyata dugaan saya benar, kesukaan yang sama mengenai musik, seni, ideologi punk dan selera humor yang sama membuat kita cepat akrab di sekolah.

Saya masih ingat betul sewaktu kelas X saya pernah bertukar sepatu kanvas butut saya yang literally robek dan ditambal dengan handsaplast, dengan sebuah sepatu adidas superstar putih-hijau, entah itu barang palsu ataupun tidak yang jelas itu merupakan sebuah pertukaran yang bodoh atau memang takdir, yang membuat kemudian kami menjadi akrab di sekolah. Cukup mudah untuk bersenang-senang dengan bocah ini karena kita memang punya interest yang serupa,  konser, gigs, dan bumbu-bumbu lainnya sepertinya adalah yang bisa saya ingat betul saya habiskan bersama bajingan ini dan kawan-kawan lainnya sewaktu SMA.

Lepas SMA , bajingan ini melanjutkan kuliah arsitektur di bilangan kampus di Jl. Kaliurang sana , katanya biar cepet kalo mau pacaran ena-ena tinggal ke Kaliurang candanya, padahal dia telah kandas dari keinginannya berkuliah kedokteran. Saya? saya memutuskan untuk menunda kuliah setelah sakit hati gagal dari 6 kali tes di universitas negeri, percayalah saya mencoba sebanyak itu dan gagal semua. Gagal masuk universitas negeri di SMA saya itu cukup menekan saya dan menjadikan saya cukup minder untuk bergaul dengan kawan-kawan SMA. Saya waktu itu merasa sangat gagal dan labil untuk  berdamai dengan diri saya sendiri, saya bahkan merasa sebaiknya saya menjauhi lingkungan pertemanan SMA padahal jarak rumah begitu dekat dengan tongkrongan anak-anak Smada. Seingat saya cuma dua teman dekat saya yang benar-benar ada untuk saya waktu itu, Agus dan bajingan bernama Marshal ini. Hampir setiap hari dia ke rumah, bahkan ibu saya selalu memasak lebih untuk jaga-jaga kalau dia ke rumah. Entah apapun motifnya, saya selalu senang kalau Marshal ke rumah, dia tidak pernah memperlakukan saya lain dan saya bisa sharing apa saja yang menurut saya menarik. Sampai akhirnya kita mengerjakan proyek jualan bersama karena memang kita butuh uang.

Saya memulai bekerja dengan bocah ini lewat proyek berjualan sepeda fixie di tahun 2010, waktu itu sepupu saya di Tangerang menanyakan bagaimana membeli fixie, kebetulan di Jogja waktu itu belum ada dan di Jakarta sudah terlewat mahal, alhasil saya dan Marshal mengerjakan sepeda fixie dengan membeli rangka sepeda balap bekas kemudian mengecat ulang ,mereparasi dan menambah sparepart. Saya masih ingat saya dan dia musti mengangkut frame setelah dicat dari Seyegan hingga rumah saya menggunakan motor, plus masih menabrak mobil pickup dan kabur setelah pisuh-pisuhan di Jalan Magelang. Hasil dari proyek pertama membuat kami berjualan sepeda fixie yang lain via kaskus, semuanya berjalan sangat lancar hingga akhirnya kami kalah cepat dengan pemain bermodal besar lainnya, modal kami sepertinya habis untuk bersenang-senang. Akhirnya kami berpindah jalur, karena butuh uang akhirnya kami berjualan baju bekas via kaskus, waktu itu berjualan baju bekas cukup menggiurkan karena modal yang diperlukan sedikit dan berjualannya mudah. Singkat cerita bisa dipastikan hampir setiap hari kami hunting awul-awul di sekitaran Jogja, Magelang, Muntilan, bahkan mungkin Temanggung. Saya selalu bisa membayangkan rasa terik siang, bergumul dengan tumpukan pakaian berdebu bahkan bau, menertawakan perilaku orang sekitar supaya tidak bosan dan pulangnya ditutup dengan makan mie ayam, kegiatan yang saya lakukan hingga bosan tapi memang kebutuhan. Apapun kita jual, mau itu baju bekas ataupun sepatu bekas tak masalah, yang penting ada demand kita akan carikan supply. Ketika penjual baju bekas sudah terlalu banyak dan harga pasar sudah terlalu ngawur, kami memutuskan berhenti. Saya yang sudah berkuliah mulai mencari ceruk baru, akhirnya kami jadi biro jasa desain grafis untuk beberapa rekan, berjualan jaket dan polo untuk para adik-adik mahasiswa baru yang sangat bangga masuk kampusnya hingga menjadi mafia tugas OSPEK. Kami memang pernah menjadi mafia tugas OSPEK kampus, ini memang rejeki musiman tapi gurih sekali. Kami cukup menyebar brosur menjanjikan bisa mengerjakan tugas anda sehingga anda bisa tidur pulas tanpa perlu begadang hingga pagi demi dimarahi senior anda esoknya dengan harga yang bersahabat. Terbukti memang banyak mahasiswa malas yang menyerahkan tugasnya pada kami dan kami kerjakan dengan senang hati. Dari sepeda, baju bekas hingga  mafia tugas OSPEK, saya masih berpartner dengan bajingan ini mengerjakan proyek ngaosi.merch dan beberapa proyek yang masih rahasia. Entah kenapa saya juga masih saja berkutat dengan bajingan ini, saya merasa pernah lapar dan kenyang bareng sudah cukup untuk membuat saya percaya jika yang kami lakukan akan berhasil, jika tidak setidaknya pasti akan menyenangkan seperti yang sudah-sudah.
Bajingan ini memang bukan orang yang relijius atau orang yang bisa mengajarkanmu sebagaimana buku-buku menceritakanmu banyak hal. Bajingan ini yang selalu mengajarkan bagaimana bertahan di jalan dan bagaimana menertawakan keseharian dan kesialan yang kita alami, karena memang hidup itu soal menunggu giliran menertawakan atau ditertawakan bukan? Bajingan ini yang menggugah saya untuk terasadar bahwa kami tidak akan menjadi normal dan melawan semuanya sendiri dengan jalan yang kami pilih sendiri. Bajingan ini pula yang sering menamparku lewat obrolan-obrolan dini hari di depan teras rumahku, seperti bagaimana hidup bukan soal sepintar apa kau membuat logika tetapi bagaimana kau mengolah rasa dan melihat lebih jeli. Bajingan ini kadang tidak sebajingan yang kau kira, bajingan ini yang tidak pernah mengeluh karena kau gunakan tenaganya untuk membantumu banyak hal. Tentunya banyak hal bajingan lainnya tentang dirinya, tetapi sesama bajingan dilarang saling mbajing bukan?

Selamat ulang tahun yo ngan!

DSC_0042---Copy---Copy.jpg

Bajingan Bernama Marshallino

Misuh

Salah satu dari rutinitas setiap hari saya itu nonton DOES ( Diary of Erix Soekamti ) via youtube. Youtube memang andalan bagi saya yang jarang sekali nonton televisi, lagipula untuk apa lagi nonton TV, konten TV diambil dari youtube juga. Nah, salah satu channel wajib ain saya itu DOES, karena memang menurut saya konten vlognya Mas Erix ini lebih bagus ketimbang vlog-vlog lokal lainnya. Jangan salah, saya juga mengikuti vlog-vlog youtubers lainnya tapi saya merasa ndak dapet apa-apa , tidak seperti konten Mas Erix yang selalu ada tema yang bisa kita curi insightnya. Memang terbukti top kok, viewersnya aja per episode bisa belasan ribu dalam sebulan, bahkan lebih. Hasil dari youtube ads-nya ndak usah ditanya, ketok marai kemecer lah pokoke.

Salah satu episode favorit saya itu yang berjudul Fatherhood, belum lama ini diuploadnya kok kamu bisa scroll dari episode-episode terakhir. Mas Erix bercerita anak sulungnya yang masih menginjak awal SD mengumpat atau misuh saat dia dan teman-temannya ceritanya sing a long lagu Soekamti Day yang versi master live recordnya memang ada pisuhan dari salah satu crew Endank Soekamti. Menariknya adalah, umpatan ini sebenarnya tidak berarti lebih dari nama jenis hewan, cuma karena aplikasinya dalam hal hal tertentu jadi kasar sekali. Supaya tidak menjadi rancu mari kita sebut saja umpatan  atau pisuhan ini asu.

Nah di video tersebut Mas Erix beropini tentang bagaimana sih sebaiknya reaksimu sebagai orang tua ketika anakmu mengumpat untuk pertama kalinya. Saya tidak ingin menulis soal ini, saya belom pengalaman jadi bapak e hehe monggo lihat sendiri saja, saya kepingin nulis soal Asu dan Jogja.

Salah satu kebahagiaan saya kalau pulang kampung itu adalah bisa misuh atau mengumpat dengan bahagia. Rasa-rasanya kalau pas pulang terus main dengan teman-teman terus nggak pakai misuh itu kok rasanya kayak belum pulang. Di Jogja entah mengapa, atau ini hanya terjadi di pergaulan saya saja, rasanya misuh kata-kata seperti asu itu tidak jadi terlalu saru atau tabu. Tentu saja ini bukan hal yang baik juga, dan bukan kebanggaan juga. Saya cuma merasa saya akan merasa lebih homy ketika saya bisa chill out dengan teman-teman saya, bercanda membahas sesuatu hal dan mengumpat dengan luwes dan penuh gelak tawa. Rasa-rasanya dalam konteks hal tertentu misuh itu jadi penanda suatu keceriaan dengan sahabat atau orang-orang terdekat. Indikatornya kalau saya tidak terlalu akrab dengan seseorang saya mungkin tidak akan menggunakan kata-kata pelengkap tersebut, tapi kalau dengan teman terdekat, akrab dan kental tentunya kalimat-kalimat yang akan kalian dengar sebagai berikut :

” Woi buajingan nengdi wae dab hahaha pie kabare?”
“Hahaha buajingan mulah mulih wae cok, aku lagi bar rampungan skripsi iki lho , asu og angel tenan celeng”

“Asulah , kudu Tumini sek iki nyuk !”

Tentunya kalau belum terbiasa bakal ngelus dada sambil mlipir pelan-pelan, tetapi yang sudah  tahu pasti tahu kalau itu tanda ungkapan kasih sayang kawan akrab.

Semenjak saya merantau ke Jakarta saya menemukan banyak kosa kata umpatan lainnya, tetapi saya tidak pernah bisa ngefeel gitu sama kosa kata tersebut, yang ada akhirnya saya jarang sekali menggunakan kosa kata tersebut, kata-kata seperti anjing, anjir, anjrit or whatever they used rasa-rasanya kok fana gitu, kurang luwes dan terkesan kurang kasar atau terlalu kasar haha. Akhirnya kebahagiaan selalu timbul ketika saya bisa bertemu dengan kawan lama dari Jogja di Jakarta atau kenalan baru dari Jogja yang bisa connected dengan gaya obrolan berbumbu pisuhan. Sebagai tambahan , teman-teman dari Jawa Timur yang saya kenal kebanyakan punya gaya obrolan dan bercandaan yang sama.

Bahagia itu kadang sederhana, sesederhana bisa misuh bareng dengan luwes, suog!

#nowplaying DOM 65- Klub SA

 

 

Misuh

Srawung = Nabung

” Nama AkberJogja kan udah besar dan sudah cukup dikenal bahkan jadi idola kota lain, ngapain sih harus repot ikutan buka stand segala?”

Begitulah kira-kira kalimat yang terkirim dari salah seorang volunteer AkberJogja dalam sebuah percakapan di grup whatsapp tempat kami para volunteer saling bertukar pikiran, malam itu kami sedang membicarakan persiapan komunitas kami membuka stand di sebuah pagelaran pameran kreatif bertajuk “Creative Days No. 3” di UGM pekan lalu, kebetulan kami setiap tahun memang diundang sebagai bagian dari komunitas kreatif Yogyakarta.

Membaca kalimat tersebut rasa-rasanya saya gatal untuk menimpali banyak, namun karena sudah tertimpa banyak tanggapan saya hanya menyampaikan inti dari tanggapan saya tanpa memberi gambaran lebih dalam, sejak hari itu saya membuat janji kepada diri sendiri untuk membuat tulisan soal ini. Sambil menyelesaikan download bokep tugas kuliah online, saya merasa cukup selo untuk menulis, mumpung internetnya banter. 

Pertanyaan pertama yang saya tanyakan ke diri sendiri adalah, bagaimana bisa kalimat tersebut muncul? Muncul dari seorang volunteer yang bahkan pernah membangun komunitas yang sama di kota asalnya, ada sesuatu yang hilangkah?

Saya berasumsi ada sebuah nilai tambah yang hilang dari komunitas yang sudah dua tahun saya tinggalkan secara aktif, kalaupun saya salah, setidaknya saya ingin menguatkan ini kembali.

Salah satu privilege kami sebagai volunteer AkberJogja adalah kemampuan untuk srawung dengan semua stakeholders komunitas dengan mudah, saya tidak suka menyebutnya networking , kayaknya terlalu kemenggres gitu dan terkesan susah dilakukan karena harus macak profesional gitu kedengarannya. Stakeholders disini adalah semua pihak yang sedikit banyak besinggungan dengan AkberJogja, entah itu guru, pemilik tempat, komunitas lain ataupun masyarakat. Kota Yogyakarta adalah tempat srawung paling nikmat seantero negeri, karena basisnya kami ini masyarakat yang sangat tidak antisosial , srawung adalah kebutuhan, setidaknya itulah yang saya rasakan dan rasanya tidak perlu dijelaskan.

Oke, hubungannya dengan buka stand dan srawung apa?

Menurut saya, sebesar apapun komunitasnya tapi kalau tidak membesarkan tiap individu di dalamnya maka sama saja pepesan kosong. Repotnya adalah mispersepsi bahwa dengan mengikuti komunitas yang besar, sendirinya tiap individu akan berkembang. Buat saya, mengembangkan diri sendiri itu tanggung jawab setiap individu dan bukan kewajiban komunitas. Namun, perlu digarisbawahi, tempat yang baik akan memudahkan anda berkembang lebih baik. Kemudahan ini bisa didapatkan dalam banyak bentuk, bagi AkberJogja kemudahan ini berbentuk kemudahan untuk srawung dengan orang-orang yang bahkan mungkin tidak berani anda srawungi jika anda tidak berlabel “volunteer AkberJogja”. Ini adalah sebuah added value dari komunitas semacam Akademi Berbagi.

Membuka stand pameran, srawung secara offline dalam bentuk apapun dengan orang banyak yang mungkin tidak pernah bayangkan se-owsom itu adalah sebuah tabungan yang baik. Inilah mengapa saya memberi judul tulisan sok tahu ini “Srawung = Nabung”

Emang nabung nanti bakal dapat apa?

Baiklah, saya sedikit sharing tentang beberapa tabungan saya yang sudah saya nikmati bunganya, baru bunganya belum tabungannya. Buat yang belum tahu, saya ini adalah seorang MOKONDO sejati, alias Modal Konco Doang. Saya hanyalah bekas mahasiswa diploma, tanpa kemampuan yang spektakuler. Alhamdulillah, AkberJogja mempertemukan saya dengan beberapa orang owsom yang setelah saya srawungi, jadi tabungan yang bermanfaat sekali buat petualangan hidup saya.

Siapa yang nyangka, srawung saya dengan seorang Mas Tani Sanjaya, yang awalnya hanya berniat minta ijin Grha Telkomsel Jogja untuk kelas, kemudian menjadikan beliau jadi mantan bos saya di sebuah proyek untuk produk Telkomsel? Srawung saya dengan Mas Tani kemudian memudahkan saya mengajukan proposal sponsorship untuk acara besutan saya dan teman-teman di kampus. Tidak cukup hanya itu, saya kemudian beruntung ditawari terlibat sebuah proyek branding produk Telkomsel yang bahkan membuat saya berkesempatan mendadak pitching ide di depan VP Telkomsel Area Jateng, kesempatan yang sangat langka buat saya.

Siapa yang nyangka, srawung saya dengan Mbak Ike Agustina, guru sekaligus teman volunteer tersayang kami, membuat saya sedikit banyak terbantu dalam hal kelancaran interview untuk semua pekerjaan kantoran saya? Mbak Ike kebetulan memang dosen psikologi dengan pengalaman sebagai recruiter, jadi soal recruitment pekerjaan saya berguru pada beliau. Bahkan to be honest, final interview saya dengan CEO kantor saya sekarang sangat terbantu oleh privat tentor Mbak Ike.

Siapa yang nyangka, srawung saya dengan Mas Imam Subchan, membuat saya belajar banyak pada beliau. Saya tergolong cukup sering nginthil Mas Imam setiap ada kesempatan, karena saya pasti diajari hal baru. Soal bisnis, kehidupan, percintaan bahkan soal pekerjaan kantor yang cuma berakhir dengan saya yang dicengin pun sering tertanyakan ke mentor saya ini.

Tanpa bermaksud menyombongan hal yang remeh temeh, saya hanya berusaha menguatkan added value dari komunitas ini. Menurut saya, kegiatan di akademi berbagi kita tidak akan terlalu lama, anda akan semakin sibuk kemudian semakin menjauh dan digantikan orang lain, tapi tabungan hasil srawung anda tetap akan berkembang dan bisa anda manfaatkan kapan saja, asal anda tahu bagaimana menggunakannya.

Srawung = Nabung

チル

Sedikit jagoan-jagoan saya dari Jepang yang ena didengerin sebelum bobo’ dan sambil ena-ena lainnya

Here we go..

Cero

Band ini mengaku beraliran “contemporary exotica rock orchestra” , cukup rumit tapi kenyataannya kita bakal mendengar tone-tone jazzy, RnB , fusion yang sangat easy listening dan bikin nagih karena ena. Tak serumit nama genrenya, Cero nikmat banget didengarkan di ujung hari setelah lelah beraktivitas

Favorit saya : “orphans”

The Fin

Band asal kobe ini terdengar sedikit mirip dengan M83 atau Phoenix. Pokonya ena, karena banyak sentuhan electro dan string gitar yang nikmat. Pokonya ena, percaya sajalah.

Favorit saya : “night time”

おやすみなさい

チル